Makna Idul Fitri Bagi Yang Puasa Dengan Benar

Saat Idul Fitri, kita biasa mendengar bahwa “mereka yang telah menunaikan ibadah shaum selama bulan Ramadhan dengan baik” maka mereka akan “keluar dalam keadaan suci seperti bayi yang baru lahir, dan kembali kepada fithrah”…

Itu juga merupakan momen yang sangat bagus bagi kita untuk berefleksi. Agar mudah membayangkannya, ketimbang bayi yang belum bisa banyak beraktivitas, mari kita bayangkan saja anak-anak balita, yang masih dekat dengan kemurnian bayi.

Kita biasa melihat bagaimana anak-anak balita berebut mainan dengan sebayanya. Lalu, biasanya, salah satu dari mereka akan menangis; atau malah kedua-duanya. Lalu, orang dewasa pun akan memisahkan mereka untuk beberapa waktu, dan mengalihkan perhatian mereka kepada hal lain.

Ajaibnya, anak kecil dengan mudah dialihkan perhatiannya kepada hal lain. Setelah dia asyik dengan hal lain tersebut, maka dia pun dipertemukan kembali dengan balita lainnya–yang sebelumnya sempat berebut mainan dengannya. Ajaibnya lagi, kedua balita tersebut bisa langsung bermain kembali tanpa mempermasalahkan “kamu tadi nyebelin dan bikin saya bete”, apalagi sampai menyimpan dendam.

Ya, itulah gambaran paling mudah ihwal kita semua, di saat masih murni, di saat masih tak ada ruang untuk merawat kebencian seapik mungkin (bahkan hingga dihiasi ini itu agar tampak menarik he he he he he…).

Entah di usia berapa sebenarnya kita mulai mengenal sakit hati dan dendam kesumat yang kita bawa sampai mati.

Nah, saat memasuki Syawwal atau Idul Fitri, kita bisa bercermin saat mendengar nasihat ihwal “mereka yang kembali menjadi sesuci bayi selepas dari Ramadhan”… Lihat dan nilai saja diri sendiri, masih berapa banyak luka, sakit hati dan dendam yang tetap kita rawat dengan baik dalam hati?

Pantaskah kita merasa sudah menjadi sesuci bayi di saat Idul Fithri dengan “kondisi hati yang babak belur” tersebut?

Demikian, sekilas renungan pribadi saya untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan yang mulia. Semoga, kita bisa menjalani ibadah shaum di bulan mulia tersebut dengan baik hingga Allah menerimanya dan berkenan mengubah kita menjadi hamba yang lebih baik.

“Ya Allah, aku titipkan diriku kepada-Mu dan jangan kembalikan aku kepada diriku sendiri walaupun hanya sekejap mata.”

Tinggalkan Balasan